Gimana pendapat kalian soal bansos DTKS, beneran nyampe ke yang butuh?
Sering denger bansos salah sasaran, yang mampu dapat yang miskin nggak. Tapi ada juga yang kebantu banget. Gimana pendapat dan pengalaman kalian soal bansos dan pendataan DTKS, beneran efektif nggak?
Penanya anonim·Ditanyakan pada 20 hari lalu·792 orang sudah melihat·4 jawaban
Keluarga saya penerima bansos beberapa tahun pas kondisi ekonomi terpuruk, jadi saya cerita dari sisi yang terbantu. Buat kami itu nyata membantu, uang dan sembakonya nyambung hidup pas suami saya kena PHK. Jadi saya nggak setuju kalau dibilang bansos sia-sia, buat yang beneran butuh itu penyelamat. Tapi saya juga jujur lihat masalahnya di lapangan. Pendataan DTKS sering nggak update, ada tetangga yang udah mampu tapi masih terdata dan dapat, sementara janda tua di ujung gang malah nggak masuk data karena nggak paham cara daftar atau nggak ada yang bantu. Masalahnya di data yang jarang diperbarui dan sosialisasi yang kurang. Solusinya menurut saya perlu pendataan ulang rutin dan warga aktif lapor lewat mekanisme usul sanggah di tingkat desa. Programnya baik, eksekusi datanya yang harus terus dibenahi. Jangan gara-gara ada yang salah sasaran, lalu nganggap semua bansos buruk.
PPsikologKlinis_Bu SintaPemulaPengalaman nyataPsikolog klinis praktik sepuluh tahun, bantu banyak orang atasi cemas dan burnout.
Pendapat saya, bansos itu perlu tapi jangan sampai bikin ketergantungan. Saya lihat di kampung ada yang jadi mengandalkan bantuan dan malas usaha karena takut kalau kelihatan mampu bansosnya dicabut. Ini efek samping yang jarang dibahas. Menurut saya bansos ideal itu sementara, sebagai jaring pengaman pas jatuh, dibarengi program pemberdayaan biar orang bisa mandiri lagi. Ngasih ikan sekaligus ngajarin mancing. Jadi saya dukung bansos, tapi harusnya dipadukan pelatihan kerja dan modal usaha, bukan bantuan tunai terus-menerus tanpa jalan keluar. Idealnya tiap penerima juga diarahkan ke pelatihan kerja atau modal usaha kecil biar bisa mandiri lagi. Bantuan tunai itu penyambung napas pas jatuh, tapi tangga buat naik lagi yang bikin orang benar-benar keluar dari kesulitan.
Narasumber anonim PemulaPengalaman nyata
Saya pernah jadi pengurus RT, jadi lihat langsung ruwetnya. Masalah salah sasaran itu sering bukan karena korupsi, tapi karena data pusat nggak sinkron sama kondisi terkini. Orang yang 3 tahun lalu miskin sekarang udah membaik tapi masih terdata, atau sebaliknya. Kami di tingkat bawah sering usul perbaikan tapi prosesnya lama. Yang bikin kesel warga, kadang yang ngurus dan vokal yang dapat, yang pemalu dan beneran susah malah terlewat. Saran saya, kalau kamu atau tetangga layak tapi belum dapat, aktif datang ke kelurahan, minta dimasukkan lewat musyawarah desa. Sistem usul sanggah itu ada, tapi banyak yang nggak tahu dan nggak manfaatin.
JJombloBahagia_FerdiPemulaPengalaman nyataJomblo bertahun-tahun tapi rajin kasih saran cinta, padahal teori doang belum kejadian.
Tips praktis buat yang mau cek atau daftar. Sekarang ada aplikasi resmi Cek Bansos dari Kementerian Sosial, kamu bisa cek apakah kamu terdaftar dan bisa usul diri sendiri atau sanggah data yang salah. Saya bantu ibu saya daftar lewat situ. Jadi kalau kamu merasa layak tapi belum dapat, jangan cuma mengeluh, coba jalur resmi itu dan datangi kelurahan. Sebaliknya kalau tahu ada yang nggak layak tapi dapat, ada mekanisme lapor juga. Transparansi ini bergantung partisipasi warga, bukan cuma nunggu pemerintah. Kita bisa ikut mengawasi. Kalau data kamu keliru atau ada yang nggak layak tapi terdaftar, kamu juga bisa lapor lewat jalur resmi itu. Sistem ini cuma seakurat partisipasi warganya, jadi kalau semua ikut mengawasi, penyaluran bisa pelan-pelan makin tepat sasaran.